Jumat, 19 April 2013

PANDANGAN NEGATIF SEBAHAGIAN UMMAT ISLAM TERHADAP MADZHAB SAFI'I



KEMBALI KEPADA ALLAH DAN RASUL (kembali pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul) dan Pandangan Negatif Sebahagian Orang Islam terhadap Madzhab safii
Golongan modernisasi agamo bisa meneriakkan bahwa mereka akan mengembalikan orang pada Allah dan Rasul atau mengembalikan pada Al Qur’an dan Sunnah.
Slogan ini adalah suatu slogan yang baik yang manis kedengarannya, sebab semua orang yang telah menyeleweng dari Kitabbullah dan Sunnah Rasul akan di kembalikan kepada Relnya yang asli, yaitu kitabullah dan sunnah rasul.
Seluruh ahli ahli Bid’ah dan ahli ahli churafat akan dikembalikan kepada jalan yang lurus, yaitu Kitabullah dan sunnah rasul, alangkah baiknya itu ?
Siapapun yag ada mengalir setitik darah Islam dalam badannya tidak akan membantah soal ini.
Tetapi kalau slogan ini bertujuan untuk menyatakan bahwa ummat Islam yang menganut Madzhab Safei itu sudah menyeleweng dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dan karena itu hendaklah di kembalikan kejalannya yang lurus , maka slogan itu benar benar menjadi slogan “ Kalimatu Haqqin urida bihil batil” (Perkataan yang benar, dengan tujuan yang salah).
Dalam sejarah Islam terjadi suatu peristiwa, setelah terjadi gencatan senjata dalam peperangan Shiffin , antara tentara saidina Ali dan saidina Mu’awiyah maka kedua belah pihak mengangkat suatu panitia yang terdiri dari dua golongan yang bermusuh ini.tujuan untuk menjadi Hakim dalam perselisihan ini.
Yakni mencari jalan untuk terlaksananya perdamaian abadi antara dua golongan ummat islam yang melakukan perang saudara.
Sekumpulan orang Chawaridj, tidak mau menerima terbentuknya panitia perselisihan itu, karena menurut mereka “ Hukum tidak boleh diminta ke pada Manusia” akan tetapi harus diminta pada Allah swt.
Mereka mengeluaran semboyan “ La hukma illa lillah” (tidak ada hukum melainkan dari Allah)
Ketika disampaikan  kepada Saidina Ali semboyan orang Chawaridj ini beliau menjawab :
“Kalimatu Haqin urida bihil batil”(Perkataan yang benar dengan tujuan yang salah)
Apakah orang orang yang membentuk Panitia Perdamaian itu diminta hukum kepada lain Allah , Apakah Panitia tersebut tidak bisa menjalankan Humum Allah.
Nah begitu juga dalam masalah yang kita hadapi sekarang!
Apakah ummat Islam yang menganut Madzhab Safi’i tidak menjalankan Hukum Allah dan Rasul, Apakah Sandi sandi Imam Safi’I itu tidak kitabullah dan Sunnah Rasul.
Semua orang tahu, justru untuk menjalankan perintah Allah dan Rasul dengan sebaik baiknya maka orang penganut Madzhab safi’i.
Garis garis yang digariskan oleh Imam Safi’i lah garis garis yang lurus 100% dengan kitabullah dan sunnah Rasul tsb.
Ada orang yang mengatakan lagi – dalam rangka mendeskreditkan madzhab dan penganut madzhab safi’i  bahwa adalah madzhab madzhab yang menimbulkan perpecahan dalam kalangan masyarakat Islam. Andai kata semuanya kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul , maka orang tidak berpecah lagi, karena orang sudah kembali kesumbernya yaitu Qur’an dan Hadist
Orang yang mengatakan hal ini benar benar tidak mengetahui sejarah Islam, tetapi pendapatnya di ambilnya dari omongan omongan kaum Orientalist.
Orang itu tidak tahu, bahwa sebelum Madzhab madzhab ini ada, yaitu pada zaman para sahabat sudah terjadi perpecahan, pada hal semua mengikuti AlQur’an dan Hadist.
Sebagai Contoh : Telah terjadi peperangan antara pasukan Ummul mu’minin Siti Aisyah dengan pasukan saidina Ali Rda, dipeperangan yang bernama Perperangan Djamal. Yakni peperangan onta yang memimpin peperangan itu.
Kedua sahabat yang paling mulia ini berperang justru karena keduanya mempertahankan Kitabullah dan Sunnah Rasul sesuai dengan paham dan Idjtihad mereka masing masing.
Dan sudah terjadi pula peperangan antara pasukan Saidina Ali dengan pasukan Saidina Mu’awiyah di peperangan Shiffin kedua para sahabat yang utama ini berperang karena keduanya menegakkan Kitabullah dan Sunnah Rasul sesuai dengan paham dan Idjtikad masing masing.
Untunglah perselisihan antara sahabat yang mulia ini berdasarkan Idjtikad masing masing yang dianggap benar dan harus di pertahankan.
Tetapi ada yang paling celaka yaitu perpecahan yang di timbulkan karena tafsiran tafsiran yang liar dari orang yang menafsirkan Qur’an semaunya dan sekehendak hatinya. Seperti tafsiran kaum Syiah kaum Mu’tazilah . kaum Khawaridj yang semuanya berpegang ke pada Qur’an dan hadist, tapi tafsiran sasuko hati, ini terjadi sebelum adanya madzhab madzhab Safi’i , Hanafi, Maliki dan Hambali.
Ini fakta sejarah !
Maka Jelaslah bahwa sumber pepecahan tersebut, bukan dari adanya Madzhab madzhab..
Sumber yang hakiki dalam perpecahan adalah : Memegang Qur’an dan Hadist dengan tafsiran tafsiran yang liar, yakni tafsir sekehendak hati saja.
Ada kata pada waktu sekarang, pada abad ke 20 ini kepada setiap orang di anjurkan kembali kepad Kitabullah dan Sunnah Rasul dan diserahkan pada mereka menafsirkan Qur’an dan hadist semaunya, maka timbullah berates ratus madzhab dan beribu ribu madzhab, bukan empat madzhab yang sekarang karena setiap orang membuat madzhab sendiri sendiri, maka lebih baik kalau mencari persatuan, dianjurkan kepada seluruh ummat Islam, supaya mengikuti Qur’an dan Hadist dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, akan tetapi tafsir dari Kitabullah dan sunnah Rasul itu harus menurut garis yang satu, yaitu garis yang telah di gariskan oleh Imam Besar Muhammad bin Idris as Safi’i dalam Madzhab safi’i.
dibuat oleh : Nangkasila.Mr


PERKEMBANGAN MADZHAB SEFI'I



PERKEMBANGAN MADZHAB SAFI’I
Pemikiran fiqih Madzhab Safi’i diawali oleh Imam Syafi'i, yang hidup di zaman pertentangan antara aliran Ahlul Hadits (aliran yang cenderung berpegang pada teks hadist) dan Ahlur Ra'yi (aliran yang cenderung berpegang pada akal pikiran atau ijtihad). Imam Syafi'i belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh ahlul hadits, dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh ahlur ra'yi yang juga murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi'i kemudian merumuskan aliran atau mazhabnya sendiri, yang dapat dikatakan berada di antara kedua kelompok tersebut. Imam Syafi'i menolak  metode istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun metode mashalih mursalah dari Imam Malik. Namun demikian Mazhab Syafi'i menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Meskipun berbeda dari kedua aliran utama tersebut, keunggulan Imam Syafi'i sebagai ulama fiqih, ushul fiqih, dan hadits di zamannya membuat mazhabnya memperoleh banyak pengikut; dan kealimannya diakui oleh berbagai ulama yang hidup sezaman dengannya.

Dasar-dasar Mazhab Syafi'i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqih Ar-Risalah dan kitab fiqih al-Umm. Di dalam buku-buku tersebut Imam Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far'iyyah atau hukum yang bersifat cabang.

Dasar-dasar mazhab Syafi'i yang pokok ialah berpegang pada hal-hal berikut.
  • Al-Quran, tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi'i pertama sekali selalu mencari alasannya dari Al-Qur'an dalam menetapkan hukum Islam.
  • Sunnah dari Rasulullah SAW kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Quran. Imam Syafi'i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah Nabi).
  • Ijma' atau kesepakatan para sahabat Nabi, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma' yang diterima Imam Syafi'i sebagai landasan hukum adalah ijma' para sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum; karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
  • Qiyas yang dalam Ar-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam ijma' tidak juga ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi'i menolak dasar istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.

Penyebarluasan pemikiran Mazhab Syafi'i berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki yang banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kekhalifahan. Pokok pikiran dan prinsip dasar Mazhab Syafi'i terutama disebarluaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Murid-murid utama Imam Syafi'i di Mesir, yang menyebar-luaskan dan mengembangkan Mazhab Syafi'i pada awalnya adalah:
  • Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 846)
  • Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 878)
  • Ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi (w. 884)
Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal sebagai ulama hadits terkemuka dan pendiri fiqih Mazhab Hambali, juga pernah belajar kepada Imam Syafi'i. Selain itu, masih banyak ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi'i, antara lain:
  • Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari
  • Imam Bukhari
  • Imam Muslim
  • Imam Nasa'i
  • Imam Baihaqi
  • Imam Turmudzi
  • Imam Ibnu Majah
  • Imam Tabari
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
  • Imam Abu Daud
  • Imam Nawawi
  • Imam as-Suyuti
  • Imam Ibnu Katsir
  • Imam adz-Dzahabi
  • Imam al-Hakim
Imam Syafi'i terkenal sebagai perumus pertama metodologi hukum Islam. Ushul fiqih atau metodologi hukum Islam, yang tidak dikenal pada masa Nabi dan sahabat, baru lahir setelah Imam Syafi'i menulis Ar-Risalah. Mazhab Syafi'i umumnya dianggap sebagai mazhab yang paling konservatif di antara madzhab-madzhab sunni lainnya. Dari mazhab ini berbagai ilmu keislaman telah bersemi berkat dorongan metodologi hukum Islam yang dikembangkan para pendukungnya.

Karena metodologinya yang sistematis dan tingginya tingkat ketelitian yang dituntut oleh Mazhab Syafi'i, terdapat banyak sekali ulama dan penguasa di dunia Islam yang menjadi pendukung setia mazhab ini. Di antara mereka bahkan ada pula yang menjadi pakar terhadap keseluruhan madzhab Mazhab Suni di bidang mereka masing-masing. Saat ini, Mazhab Syafi'i diperkirakan diikuti oleh 28% umat Islam sedunia, dan merupakan mazhab terbesar kedua dalam hal jumlah pengikut setelah Mazhab Hanafi.

Rabu, 17 April 2013

ADAM DAN HAWA BUKAN MANUSIA PERTAMA DI BUMI (Bagian II)



Konsepsi yang di pegang dunia Islam selama ini, bahwa adam dan hawa itu di ciptakan di Sorga dan terusir dari Sorga, disebabkan pengaruh tiga Faktor :
1. Pengaruh kata Jannah pada setiap kisah Adam,
2. Pengaruh kata Ihbithuu pada setiap kisah Adam setelah malanggar larangan Allah.
3. Pengaruh Doktrin (ajaran) agama Kristen
Kata Jannah pada setiap ayat al Qur’an bila mana dikaitkan dengan kata lainnya seumpama Jannatul-makwa, JannatulFirdausi, Jannatul Khuldi, Jannatul Adnin dan lainnya maka kata Jannah disitu Mesti di maknai dengan Sorga.
Tapi bila mana kata Jannah itu berdiri sendiri dalam Ayat Alqur’an maka bias bermakna Kebon, Taman ( Al Baqarah 2:266, Al Ra’ad 13:14, Al Mukmin 23:19, Al Israk 17:9, dan bias bermakna kebon anggur. Al Kahfi 18: 32, Al Baqarah 2 :266, Al An’am 6:99, Al Mukmin 23:19 Al Israk 17:91, dan bias bermakna kebon di pinggang Bukit , Al Baqarah 2:265, dan bias juga bermakna kebon saja , Al Syu’arak 26:134, Al An’am 6:141, Qaff 50:9 Al Kahfi 18:35,39,40,33 bisa juga bermakna Taman, Al Dukkhan 44:25 Sabak 34:15,16 dan bias pula bermakna sorga pada berbagai bagai ayat Alqur’an
Justru bila mana kata Jannah berdiri sendiri seperti halnya pada setiap kisah Adam dalam Al Qur’an adalah tidak mesti dimaknai dengan Sorga , akan tetapi selama ini senantiasa dimaknakan dengan sorga dan sebagai akibatnya timbul kekeliruan dalam pemahaman itu tidak konsisten dengan berbagai ayat AlQur’an seumpama Al a’raf 7:20 dan terlebih lebih dengan hokum tata bahasa arab dalam pemahaman ayat Al Qur’an seumpama Al Baqarah. 2:30
Pada setiap kisah Adam dalam Al qur’an setelah berlansung palanggaran larangan Ilahi, senantiasa di jumpai kata Ihbithuu (turunlah kamu) dan sesekali kata Ihbithaa( turunlah kamu keduanya) selama ini dimaknakan dengan turun secara fisik. Yakni dari atas (sorga) kebawah (bumi) ,. Sedangkan kata Ihbithuu dalam alqur’an itu tidak mesti dimaknakan secara fisik dari atas ke bawah, buktinya kisah nabi Musa, setelah berhasil meluputkan bani israil dari penindasan pihak Pharao di mesir dan menetap di semenanjung Sinai selama 40 tahun, daerah Gersang tandus , dan untuk kebutuhan hidup bani Israil itu turun Manna dan Salwa setiap pagi, dan bani Israil itu lambat laun merasakan muakdan lalu menuntut makanan yang bervariasi dan beragam setiap harinya.maka saat itulah Allah Maha Kuasa berfirman Ihbithuu Mishran fa-inna Lakum ma Sa altum (surat Al Baqarah 2:61 yang berarti Turunlah kamu ke Mesir maka disitu apa yang kamu minta itu.
Dalam Firman Allah tersebut di jumpai kata Ihbithuu (turunlah kamu) sedangkan dataran semenanjung Sinai itu dengan dataran tanah mesir, sebelah menyebelah Kanal Suez bersamaan tingginya dari permukaan laut, di situ tidak di jumpai pengertian “turun” dari atas kebawah.
Pada saat Adam bertindak melanggar perintah Allah  dan pada saat bani Israil mendesakkan “ tuntutan yang di pandang keterlaluan, maka firman Allah dalam sekalian peristiwa itu mempergunakan kata Ihbithuu itu pada hakikatnya merupakan “Ungkapan Kemurkaan” dari pihak Allah Maha Kuasa !.
Konsepsi bahwa Adam dan Hawa itu diciptakan di Sorga dan kemudian terusir dari Sorga adalah Doktrin (ajaran keyakinan) dalam agama Kristen berdasarkan jaran paulus wafat 64 M tadinya seorang tokoh agama Yahudi yang sangat sengit menyiksa dan mengejar ngejar para pengikut yesus Kristen di Yerusalem (KRR 7:57- 60 KRR 8:1-3) tapi kemudian menyatakan beriman dengan agama baru itu (KRR 9:1-19) tapi seanjutnya “ memisahkan” diri dari dua belas rasul murid yesus (KRR 15:39-41) dan lalu menyebarkan ajaran sendiri” di asia kecil, Makedonia,semenanjung Grik, dan Rum (KRR fasal 16-28).
Sepeninggal nabi Besa Muhammad 570-632 Masehi maka pada daulat Al Rasyidin 632-661M yang berkedudukan di madinah al Munawarah dan terlebih lebih pada masa daulat umayyah (661-750M) yang berkedudukan di damaskus kekuasaan islam telah meluas keluar Arabia, pada belahan timur berbatasan dengan pergunungan Thian Shan dan pada belahan Barat berbatasan pergunungan Pyrennes, pada belahan barat itu yaitu bekas wilayah imperium Roma agama Islam berbenturan amat erat sekali dengan agama Kristen bahkan banyak tokoh tokoh Kristen itu memeluk agama Islam lambat laun menyelusup pengaruh luaran itu kedalam agama Islam.
Kesimpulan :
1.      Adam dan Hawa bukan di ciptakan di Sorga akan tetapi di Bumi
2.      Adam dan Hawa bukan Manusia Pertama di Bumi
3.      Adam dan Hawa hidup sekitar 12.000 tahun sebelum masehi.
Tapi kesimpulan pendapat itu mungkin dianggap amat ekstrim oleh karena merombak secara total terhadap apa yang di pegang dunia Islam semenjak berabad abad lamanya, sekalipun begitu kita harus berani melakukan Re-Interprestasi bagi kemurnian Agama Islam kata pemikiran Joesoef Souib
Sekilas Riwayat Joesoef Sou’yb
Tempat tanggal  lahir : Bayur, Maninjau , 14 Juli 1916 Sumatera Barat
Pendidikan :
1922-1924 Volkschool , Bayur maninjau
1925-1927 Governement School , Lansa Aceh
1928-1930 Sumatera Tawalib, Padang Panjang
1931-135 Tarbiyah Islamiyah Candung Bukittinggi
1951-1954 Fakultas Hukum dan pengetahuan Masyarakat UISU Medan
Pengalaman mengajar
1936-1937 Guru madrasah Tarbiyah Islamiyah Bayur Maninjau
1959-1963 Wakil Dekan Akademi Pers Indonesia Medan
1967-1987 Dosen FIS (fakultas ilmu social), da FUS (Fak Ushuluddin) UISU Medan
                   Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sumatera Utara.


ADAM BUKAN MANUSIA PERTAMA DI BUMI ( Bagian1)



Dalam masalah Adam dan Hawa yang akan di bandingkan bukan lagi dengan Teori Evolusi Charles Darwin (1809-1882)
1. Ayat Ayat AlQuran jelas menyebutkan bahwa manusia pertama yang di ciptakan Tuhan adalah ADAM, kemudian dari diri Adam di ciptakan pasangannya dan dari merekalah asalnya seluruh umat manusia yang pernah ada sampai sekarang.
2. Ayat Albaqarah 2:30 menunjukkan dengan jelas bahwa malaikat malaikat telah melihat bahwa "manusia" adalah machluk yag berbuat bencana dan saling perang. Apakah yang dimaksud disini adalah manusia sebelum Adam ? mungkin !.
3. Menurut perhitungan Ulama Kristen Adam di ciptakan 6000 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 4004 sebelum Isa, Ulama ulama Islam ada yang menghitung dan hasil hitungannya Adam di jadikan 7000 tahun yang lalu sebahagian lagi mengatakan 8000 tahun yang lalu.
4. Manusia Modern Menurut ilmu pengetahuan muncul di suatu waktu antara 50.000 sampai 20.000 tahun yang lalu, namun mereka tidak pasti di tahun yang sama. pendapat yang terkuat menyatakan bahwa manusia modern muncul 40.000 tahun yang lalu, Pendapat ini agak dapat diterima karena sebelum itulah hidup manusia NEANDERTHAL dan sebelumnya lagi manusia purba (HOMO ROBUSTUS)
setelah mengemukakan data data tersebut, dapat ditarik kesimpulan mengenai masalah Adam dan Hawa tersebut sebagai berikut :
Kalau boleh saya mengadakan pendekatan maka menurut hemat saya Evolusi itu menghasilkan manusia Neanderthal yang kemudian punah karena peperangan dan bencana alam, Setelah itu Allah menciptakan Adam disuatu tempat di sorga dan kemudian mengirimnya kebumi turunan turunan Adam kemudian menyebar yang fosil fosilnya kita kenal sebagai manusia CROMAGNON, Manusia Solo, Manusia Palestina dan banyak lagi.
Demikianlah Kesimpulan dan pendapat sdr Pemerasaran yang terhormat, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan saudara Pemerasaran.
1.      Adam dan Hawa diciptakan di Bumi, bukan di Sorga yang merupakan tempat hidup Kekal, tetapi berada pada Taman serba Cukup (Jannah) .karena melanggar larangan Ilahi lalu terusir dari taman Serba Cukup (Jannah) , itu dan kini terpaksa bembanting tulang dan memeras keringat bagi memenuhi kebutuhan hidup.
2.      Adam dan Hawa itu bukan manusia pertama di bumi, akan tetapi Cuma angkatan penganti dari angkatan angkatan sebelumnya, yang telah punah disebabkan  “ Membikin kebisanaan dan saling menumpahkan darah”
3.      Adam di ciptakan Allah dari tanah pada tahap masa Neolithic. (zaman batu baru) yang bermula lebih kurang 10,000 tahun sebelum masehi.
Setelah mengemukan tiga hipotesa tersebut  maka tibalah kewajiban mengemukakan alas pikiran baikpun Naqli maupun Aqli bagi pembenaran tiga hipotesa tersebut
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 30.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Dalam firman Allah di jumpai kalimat Aku menjadikan di bumi itu Penganti, di situ kata “ Kalifatan” diberi makna dengan “ Penganti” , yang sangat berlawanan dengan pemahaman dan penafsiran yang terbiasa selama ini, sejak berabad abad sampai kini, bahwa Allah menciptakan Penguasa (Khalifatan) “untuk” di bumi. Adam dan Umat manusia keturunannya.
Pemahaman penafsiran tersebut saya nyatakan keliru, sebab : salah, kata Khalifatan menurut arti yang asli yakni arti kata. Pada masa Nabi Besar Muhammad (570 – 632 M) bermakna “ Penganti, buktinya sekalian banyak ayat AlQur’an yang mengunakan kata itu, di luar kisah Adam, maka selalu maknanya Penganti.
Sepeninggal Nabi Muhammad, yakni pada masa daulat Khulafaur Rasyidin (632-661M) dan terlebih lebih pada masa daulat Umayyah (661-750M) yang berkedudukan di Damaskus dan daulat Abbasiah (750-1258M) yang berkeduduka di Baghdad baru kata kalifah  (khalifatan) itu berubah makna baru : Penguasa, yakni penguasa tertinggi dalam dunia Islam. Perubahan arti kata itu disebabkan fakta sejarah , bahwa sewaktu abu Bakar Shiddiq terpilih dan di angkat menjabat Penguasa Tertinggi (632-634M) dalam dunia Islam.kepadanya di tawarkan panggilan untuk jabatan tersebut   “ Khalifatu ‘llah “ (penganti Allah) iapun menolak, di twarkan pangilan Khalifatu-Rasul (penganti rasul) iapun menerimanya, sewaktu khalifah umar bin Khatab 634-644M) naik berkuasa mengantikannya iapun dipanggil Khalifatu abibakrin (Penganti Abu Bakar)
Sewaktu Khalifah Usman Bin Affan (644-656M) naik berkuasa iapun di panggil “ Kahlifatu Umarin (penganti umar) demikianlah selanjutnya sampai kepada masa daulat Umayyah dan daulat Abbasiah.
Sekalipun panggilan resmi bagi penguasa tertinggi dalam dunia Islam itu ialah Amirul Mukminin akan tetapi sebutan Khalifah lebih popular pengunaannya sehari hari. Kecuali pada upacara upacara resmi dan surat surat resmi lambat laun lahirlah artikata yang baru bagi kata Khalifah itu yaitu Penguasa
Akan tetapi oleh karena AlQur’an diturunkan bukan pada masa Sepeninggalan Nabi Besar Muhammad saw , akan tetapi pada masa Nabi Muhammad saw maka setiap kata dalam AlQuran itu mestilah dimaknai menurut arti kata pada masa Nabi Besar Muhammad, justru kata Khalifatan dalam Albaqarah 2:30 mestilah di maknakan Penganti bukan Penguasa’
Perobahan arti kata disebabkan perkembangan sejarah itu bukan Cuma dijumpai pada bahasa Arab saja akan tetapi juga pada seluruh bahasa di Dunia termasuk Indonesia.
Jadi dalam Qur’an Albaqarah ayat 30 itu berbunyi Inni ja’ilun fil ardli khalifatan (Aku menjadikan di Bumi itu Khalifah) Al Qur’an itu di wahyukan dalam bahasa Arab, justru untuk memperoleh pemahaman dan penafsiran yang tepat, mestilah di pahamkan dalam berdasarkan  Hukum tatabahasa Arab (ilmu Nahwu dan Ilmu Syaraf) .
Sebuah hukum dalam tatabahasa arab tersebut berbunyi : Al Jarru wal majruru muta’allaqun bi fi’li qablahu (kata tugas dan kata dibalakang kata tugas itu mestilah dikaitkan dengan kata kerja sebelumnya). Justru kalimat “ Aku menjadikan di bumi itu khalifah” bermakna bahwa “Penjadian” kalifah itu “di bumi” sama sekali bukan bermakna khalifah itu “untuk” di Bumi.
Trus Pembuktian BAHWA ADAM ITU DI CIPTAKAN DI BUMI, oleh Allah swt dalam al qur’an Al-a’raf 7:20
7:20



Fawaswasa lahumasy syaithaanu liyubdiya lahumaa maawariya ‘anhumma min sau-aatihimaa wa qalla Maanahaakumaa rabbukumaa’an haddzihisy syajarati illa an takuunaa malakaini au takuunaa minal khaalidiin.
Lalu syetan membisikka pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup bagi keduanya, yaitu auratnya dan syetan berkata : Tuhanmu tidak melarang mu mendekati pohon ini , melainkan, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat, atau tidak beroleh hidup kekal (Q.S Al a’raf -20)
Demikianlah godaan syetan terhadap Adam dan Hawa, yaitu supaya “ Tidak beroleh hidup Kekal” (minal Khalidin) jika kalau Adam dan Hawa itu memang diciptakan di Sorga, bermakna Moyang ummat manusia itu, sudah berada pada tempat Hidupkekal. Dengan sendirinya niscaya Adam dan Hawa akan mencemooh “ Godaain Syetan tersebut,..
Tetapi Adam dan Hawa terpengaruh oleh godaan itu, yakni “ Ingin Hidup Kekal” hingga memakan buah Pohon larangan itu, apakah Artinya itu ? tidak lain tidak bukan bahwa Adam dan Hawa sdar sepenuh penuhnya bahwa mereka bukan berada pada tempat Hidup kekal, justru ingin untuk hidup kekal.
Jikalau Adam dan Hawa itu bukan berada pada tempat hidup kekal, bermakna bahwa Adam dan Hawa itu bukanlah berada di sorga akan tetapi berada di Bumi yakni asal kejadiannya.
Kecerdasan Adam tersebut cukup tinggi, hingga para malaikat di perintahkan sujud kepada nya (Albaqarah 2: 33-34) justru tidak masuk akal bahwa Adam dan Hawa begitu mudah tergoda oleh godaan syetan itu, Jikalau Adam dan Hawa itu sudah berada di Sorga.
2:33
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
2:34
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Adam dan Hawa itu bukanlah manusia pertama di Bumi, Hal ini dibuktikan oleh reaksi para malaikat yang demikian sengit : “Apakah Engkau akan menjadikan disitu makluk yang akan membikin kebinasaan dan saling menumpah darah”.
Dalam Hal ini mau tidak mau timbul soal  : Apakah para malaikat itu punya pengetahuan terhadap hal hal yang bakal terjadi pada masa Depan ?.
Jikalau malaikat tersebut punya pengetahuan seperti itu maka pantas mereka memperdengarkan reaksi demikian sengit, akan tetapi pemahaman serupa itu ternyata “berlawanan” dengan ayat ayat berikutnya Yakni : Allah mengajarkan seluruh nama nama kepada adam , dan sewaktu di ajukan kepada malaikat ternyata mereka menjawab : La ilma lana illa ma’alamtana (tiada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami) ketika diajukan kepada Adam, maka adam menyebut nama nama seluruhnya itu, dan para malaikat diperintahkan sujud kepada Adam!.
Apakah Arti itu ? Jangankan punya pengetahuan tentang hal hal yang bakal terjadi pada masa depan, para malaikat itu., “tidak punya pengetahuan terhadap apapun yang berada pada masanya itu.
Jikalau demikian halnya maka Apa alas an bagi para malaikat memperdengarkan reaksi demikian sengit.
Lain tidak karena sudah “ menyaksikan” perilaku makluk makluk sebelum kejadian Adam, yang makluk sebelum adam  itu adalah Homo sapiens sejak Neandarthall sampai manusia Cromagnon lebih kurang 300.000 – 45.000 tahun sebelum masehi dan homo erectus lebih kurang 900.000 = 300.000 sebelum masehi dan homo Habilia (lk 1.500.000 – 900.000 SM) Australopithe sejak 14.000.000 tahun . jadi adam dan Hawa bukan mausia pertama di bumi.
Tahap masa Homo sapiens (manusia berbudaya) itu diantara lain sepanjag Antropologi terbagi kepada jaman Batu Tua (Paleolithic)yang di kenal dengan manusia Gua  (Caveman) yang kemampuannya untuk mencukupi kebutuhan hidup ialah : Berburu da menangkap Ikan.
Belakangan sekali barulah muncul Zaman Batu Baru (Neolithic) setelah angkatan muda Cromagnon (lk 45.000 tahun SM) punah di muka bumi pada zaman batu baru itu kemampuan mencari kebutuhan hidup sudah meningkat tinggi yaitu dengan bertani dan berternak.
Setelah memaklumi fakta fakta yang ditemukan kalangan ilmiah itu maka kini mari silakan simak bunyi ayat AlQur’an surat almaidah 5:27 berbunyi sebagai berikut :
5:27
Ceritakanlah kepada mereka itu kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Ia (Qabil) berkata "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
Mengenai penafsiran ayat alquran di atas seluruh kitab tafsir tertua (Tafsir Ibni’ Uyainah, tafsir Ibnu abi-hatim, tafh, Tafsir Ibni habban, tafsir ibni ‘athiya, tafsir Al Samarkandi, Tafsir Abi Ishaq, Tafsir Al Thabari, Tafsir ibni Abi-syaibah, Tafsir Al Baqhawi, Tafsir Abil-Fidak, tafsir al.Razi, dan banyak yang lain lagi..bahwa habil dalam korbannya itu mempersembahkan hasil terbaik peternakannya, sebaliknya qabil mempersebahkan korbannya terletak dari hasil pertaniannya , pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan Taurat musa Genesis 4 3-16
Apa yang dapat disimpulkan  dari pernyataan Al Qur’an dan pernyataan taurat itu, tidak lain dan tidak bukan Bahwa Adam dengan kedua Puteranya itu memulai Zaman Baru peradapan. Yaitu kemampuan bertani dan beternak, jadi ADAM dan zaman Batu Baru disebabkan tembaga dan apa lagi Besi belum di temukan pada masa itu. Yang menurut H.G wells Sarjana Ingris tahun 1866 – 1946) yang bermula lebih kuran 10.000 atau 12.000 tahun sebelum masehi.
 Bersambung......................