NAGARI
Taratak mulo di buek, sudah taratak
manjadi Dusun, Sudah dusun manjadi Koto, sudah koto manjadi NAGARI,
Kelana
Penduduk
Asli Minangkabau mengelana mulanya, mereka hidup atas pemberian alam : BERBURU
Bahwa
manusia menurut keadaannya tidak sanggup hidup sendiri dapat dirasakan, selagi
masih kecil berkehendak akan memelihara Ibu-Bapak di hari tuanya, karena uzur
dan da’if. Perlu penjagaan orang lain, semasa mudanya ia berkehendak akan
bantuan tenaga, karena kekuatan orang seorang tiada sanggup melakukan sesuatu
pekerjaan yang berat , yang diluar kemampuannya. Dengan demikian bertolong tolongan adalah dasar pergaulan hidup semasanya
Timbullah
pribahasa BAREK SAMO DI PIKUA RINGAN SAMO DI JINJIANG dengan mempersamakan
sesuatu yang berat untuk keperluan bersama, yag berarti juga untuk kepentingan
diri sendiri, orang banyak berkumpul dan mulai menetap bersama sama pada suatu
tempat.
Kampung
Dan
tempat dia mengumpulkan diri disebut kampuang, dengan demikian bergantilah
hidup mengelana dengan hidup menetap.
Percaya
akan kekuatan bersama mulailah orang kampung itu menguasai alam, penduduk kampung yang
mulanya “MANCANCANG MALATEH” menebas dan merambah untuk tempat tinggal, kini
MANARUKO mengerjakan tanah, tempat dia bercocok tanam, dan berumah, mereka
membuat banda (kali) bersama sama, mengali tabek (Kolam), membuat pandam
pakuburan (TPT Makam) bersama sama, Hidup berkampung yang tersusun itu di ikat
dengan pepatah adat :
Singok nan bagisia
Halaman nan salalu
Basasok bajarami
Batunggua panabangan
Bapandam Pakuburan
Tunganai
Tiap
tiap rumah dalam kampung dikepalai oleh anggota laki laki tertua dalam kaumnya
yang disebut TUNGANAI , berkuasa keluar, sedangkan “ DUNSANAK” saudara yang perempuan kekuasaan
ke dalam .
Pangka Tuo
Untuk
mengepalai kampung itu dipilih seorang laki laki diantara sesama mereka dengan
syarat tertentu dan kepala tersebut di sebut TUO KAMPUANG atau Pangkatuo
Kampuang , ketua kampung.
Sawah
dikerjakan bersama sama bergeleran, yang berat seperti mencangkul, mancaca,
menyabit, mengirik sampai memikul sumpit dari sawah ke lumbung dihalaman muka
rumah , dikerjakan oleh laki laki bersama sama, yang ringan seperti menanam
benih, bersiang, meangin, dilakukan oleh perempuan bersama sama, sedangkan anak
mengaro bondo, mengejut burung pipit, dari atas gulang gulang yang ditegakkan
di tengah sawah, gembira melihat padi ibunya telah menguning.
Pekerjaan
bercocok tanam ini dilakukan dengan cara “MENYARAYO” tolong menolong
bergiliran, upah tidak dikenal, disini budi yang bersangkut paut.
Apabila
padi sudah pulang berlakulah satu dari Undang
nan Sambilan Pucuak ialah dengan mengadakan
keramaian di kampung seperti melepas layang layang (malapeh alang alang)di
tangah sawah pada petang hari , bakaba dan bercerita yang dirari dinyanyikan
pada malam hari , yang mendatangkan paedah bagi pendidikan masyarakat kampung,
diselenggarakan oleh anak muda, Pemuda atau pimpinan Pangatuo “ RANG MUDA”
ketua perkumpulan seni, kadang kadang diringi dengan bunyi bunyian/music sehingga
seni tari dan seni suara memegang peranan penghibur lelah, setelah menunaikan
tugas berkala.
Nagari
Gabungan
kampung yang tinggi tingkatnya merupakan nagari, Asal mula nagari adalah
kemauan penduduk bersama yang mendiami nagari itu. Dan penduduk bersama itu
ialah masyarakat gabungan kampung yang mendahuluinya, sebelum nagari itu ada.
Nagari
itu tumbuh. Ia mempunyai sifat ka nagarian khusus, yang tidak dimiliki oleh masyarakat
lain. Bernagari menghendaki ke Insafan dan kecerdasan rakyatnya yag istimewa. Sebab
nagari itu adalah sesuatu pergaulan hidup tertentu, yang mempunyai daerah
tertentu, rakyat tertentu, dan pemerintah tertentu.
Syarat
Nagari
Nagari
pada mulanya baru syah menurut adat apabila telah dipenuhi syarat yang empat :
1.
Labuah
2.
Tapian
3.
Balai
4.
Musajik
Cahayo
nagari
1.
Rumah Gadang Rumah Adat beronjong
2.
Lumbuang Bapereng lumbuang barukia
3.
Ameh Perak Emas perak
4.
Sawah lading
5.
Banda Buatan Irigasi (kali buatan)
6.
Kabau – Jawih kerbau-Sapi
7.
Tabek-Taman taman Tabek (kolam) tempat pemeliharaan
Ikan
Kebersaran
Nagari
1.
Taratak
Panyabungan
2.
Dusun-Galanggang
3.
Korong Kampuang Perkarangan rumah-kampung
4.
Pandam pakuburan makam Kaum
Paga
Nagari
1.
Alat Pekakas Nagari
2.
Jago Waspada
3.
Sinjato Senjata
4.
Mupakai Mupakat
5.
Parik Parit
6.
Kawan Teman
7.
Luruih Lurus
8.
Bana Benar
Nagari
adalah landasan Luhak, sebab susunan pemerintah dalam nagari haruslah sempurna,
dan susunan ini memang sempurna sehingga panghulu pemangku adat dapat melakukan
tugasnya sehari hari menurut undang undang Adat. Nagari mempunyai hak otonom
penuh.
Luhak
Himpunan
nagari dinamai Luhak, Teritorial, Dalam Tambo di Kiaskan bahwa datuak Suri
Di-Rajo selalu mamak menyuruh tiga orang kemenakannya tamasya kerkeliling
gunung merapi memeriksa keadaan tanah untuk pertanian , oleh karena rakyat
bertambah berkembang jua, sehingga selain untuk anak buah sendiri perlu juga
diusahakan tanah serap/tanah cadangan yang perlu disediakan untuk keturunan di
belakang.
Setelah
datuak katumangguangan kembali dari arah
barat ( AGAM) gunung merapi beliau
bercerita bahwa bumi disana hangat, airnya keruh, ikannya liar.. arti dari kata
beliau ini ( orangnya Keras hati, berani, dan suka berkelahi)
Datuak
Perpatih nan Sabatang kembali dari arah Timur (Tanah datar) menceritakan bumi
disana Sejuk, Airnya Jernih, Ikannya Jinak arti dari kata beliau ini ( orangnya
lembut, tenang, suka damai)
Datuak
Maharajo nan Banego nego nan kembali dari arah Utara(50 Kota) menerangkan bahwa
hawanya nyaman , airnya manis dan ikannya banyak arti dari kata beliau ini (orangnya penyabar,
ramah dan damai) dengan demikian terjadilah tiga buah Luhak sunggupun dalam
nagari dalam tiap tiap luhak tiada sama.
Minang kabau
Maka
disebut Minang kabau “ Baluhak nan tigo”
baluhak tigo buah nan dinamokan datuak Suri di-rajo bagian sebelah timur Luhak
Tanah Data, Luhak sbalah barat Luhak Agam , sadangkan sabalah utara luhak Limo
puluah koto.
Mendirikan
minangkabau adalah dengan ujud tertentu sebagai gabungan pergaulan hidup adalah
minangkabau menaruh djaminan akan beroleh sesuatu yang diharapkan sebagai
keuntungan dan bahagia.
Rantau
Orang
tua tua dahulu yang pergi merantau dan membuat nagari baru ditempat itu memakai
susunan adat seperti di pangkal Tanah .
dimana perlu ditambah dengan beberapa peraturan baru , berdasarkan Kato
mupakaik sesuai dengan keadaan yang diperlukan setempat. Sehingga peraturan
baru itu mempererat ikatan bermasyarakat di nagari baru itu. Dengan tidak
mengungkai kebat menurut adat dengan pangkal tanah . tempat mula mula tempat
bapailah batinggalah, dilepas dan melangkah.
Biasanya
sekali semusim atau bila kesempatan mengizinkan , orang yang merantau dating ke
kampung melihat “sandi nan Ampek” rumah
asal tempat darah tertumpah, pusek di karek. Tempat di lahirkan. Berkunjung ke
kampung ini namanya “ Menjalang” menjalang orang tua dan handai tolan supaya “kaik
kaik jan sakah” artinya supaya hubungan berkaum antara yang di kampung sama
yang di rantau tetap kekal . sebaliknya dimana oleh kaum yang dikampung
kesempatan mengizinkan mereka membalas, kunjungan itu pula kerantau menunjukkan
tali indak putuih sambia melepas rindu
Syarat
Menegakkan Nagari di rantau adalah mengikat yang telah di tentukan di pangkal
taah semula begitu juga bentuk federasi nagari nagari menurut adat kebiasaan di
pangkal tanah tersebut. Kalau ada perbedaan antara rantau sama darat maka
perbedaan itu Cuma pada teritorialnya saja tidak pada adat atau susunan nagari
tsb.
Rantau
adalah daerah otonom penuh, mempunyai peraturan pemerintahan sendiri sedangkan
pucuk pimpinan adalah dari penduduk itu sendiri yang dipilih dari isi nagari
dengan hak turun temurun untuk menjadi tepatan raja.
Berdasarkan
Undang Undang Luhak dan Rantau dimana tentara “ Luhak berpanghulu, Rantau
barajo” nyatanya raja berkuasa ke rantau sedangkan Penghulu tetap memegang
kekuasaan atas Luhak.
Bersadarkan
Luhak dan Rantau adalah dalam pengertian, bahwa rantau mengisi Adat kepada Raja
untuk pembelanjaan Istana berupa
1.
Hak Daciang
pangaluaran
2.
Ubua ubua
gantuang kamudi
3.
Ameh manah tukub
babuang
Biaya
tersebut tidak diantar oleh “ Urang Gadang Dirantau” karena biaya sekali sekali
bukan upeti dari daerah takluka raja melainkan raja sendiri atas utusannya yang
pergi menjalani batang rantau memungut pembelanjaan itu, yang telah di
kumpulkan oleh URANG GADANG lebih dahulu.
Hasil
hasil yang lain seperti hasil ulayat berupa bunga emping bunga kayu, bunga mas
dan payuang alas tinggal seluruhnya di rantau untuk keperluan sendiri.
Sebahagian
tanah minangkabau yang terletak antara tanah darat dan rantau yang disebut “Ikua
darek kapalo Rantau” ada yang merupakan kerajaan ada pula yang berupa federasi
salah satu dari padanya Alam serambi Sungai pagu.
Fusi
tidak ada diminangkabau dan tak mungkin ada , karena fusi berkehendak akan
peleburan dan nagari nagari diminangkabau tak mungkin lebur, peleburan berarti
membatalkan kemerdekaan kampung untuk
tetap mengurus dirinya masing masing. Sebagaimana tersebut dalam petiti adat “ Tagak mamaga suku, tagak bakampuang mamaga
Kampuang”
Prinsip
Nagari diminangkabau adalah Bebas mengurus dirinya masing masing kedalam. Dengan
semboyan : “ Adat salingka Nagari artinya tiap tiap nagari berdiri dengan
adatnya”
Bila
dalam Nagari nagari yang berfederasi itu timbul masalah tentag siasat, social atau
ekonomi, tidaklah bernafas keluar badan, melainkan diselesaikan oleh federasi
tersebut menurut petua adat “ Kusuik Bulu Paruah manyalasaikan da kusuik paruah
bulu na manyalassaikan” Federasi ini adalah ibarat burung yang bagian bagiannya mempunyai tugas masing
masing bagi kepentinga bersama..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar