Senin, 18 Februari 2013

Minangkabau

NAGARI
Taratak mulo di buek, sudah taratak manjadi Dusun, Sudah dusun manjadi Koto, sudah koto manjadi NAGARI,
Kelana
Penduduk Asli Minangkabau mengelana mulanya, mereka hidup atas pemberian alam : BERBURU
Bahwa manusia menurut keadaannya tidak sanggup hidup sendiri dapat dirasakan, selagi masih kecil berkehendak akan memelihara Ibu-Bapak di hari tuanya, karena uzur dan da’if. Perlu penjagaan orang lain, semasa mudanya ia berkehendak akan bantuan tenaga, karena kekuatan orang seorang tiada sanggup melakukan sesuatu pekerjaan yang berat , yang diluar kemampuannya. Dengan demikian bertolong tolongan adalah dasar pergaulan hidup semasanya
Timbullah pribahasa BAREK SAMO DI PIKUA RINGAN SAMO DI JINJIANG dengan mempersamakan sesuatu yang berat untuk keperluan bersama, yag berarti juga untuk kepentingan diri sendiri, orang banyak berkumpul dan mulai menetap bersama sama pada suatu tempat.
Kampung
Dan tempat dia mengumpulkan diri disebut kampuang, dengan demikian bergantilah hidup mengelana dengan hidup menetap.
Percaya akan kekuatan bersama mulailah orang kampung  itu menguasai alam, penduduk kampung yang mulanya “MANCANCANG MALATEH” menebas dan merambah untuk tempat tinggal, kini MANARUKO mengerjakan tanah, tempat dia bercocok tanam, dan berumah, mereka membuat banda (kali) bersama sama, mengali tabek (Kolam), membuat pandam pakuburan (TPT Makam) bersama sama, Hidup berkampung yang tersusun itu di ikat dengan pepatah adat :
Singok nan bagisia
Halaman nan salalu
Basasok bajarami
Batunggua panabangan
Bapandam Pakuburan
Tunganai
Tiap tiap rumah dalam kampung dikepalai oleh anggota laki laki tertua dalam kaumnya yang disebut TUNGANAI , berkuasa keluar, sedangkan  “ DUNSANAK” saudara yang perempuan kekuasaan ke dalam .
Pangka Tuo
Untuk mengepalai kampung itu dipilih seorang laki laki diantara sesama mereka dengan syarat tertentu dan kepala tersebut di sebut TUO KAMPUANG atau Pangkatuo Kampuang , ketua kampung.
Sawah dikerjakan bersama sama bergeleran, yang berat seperti mencangkul, mancaca, menyabit, mengirik sampai memikul sumpit dari sawah ke lumbung dihalaman muka rumah , dikerjakan oleh laki laki bersama sama, yang ringan seperti menanam benih, bersiang, meangin, dilakukan oleh perempuan bersama sama, sedangkan anak mengaro bondo, mengejut burung pipit, dari atas gulang gulang yang ditegakkan di tengah sawah, gembira melihat padi ibunya telah menguning.
Pekerjaan bercocok tanam ini dilakukan dengan cara “MENYARAYO” tolong menolong bergiliran, upah tidak dikenal, disini budi yang bersangkut paut.
Apabila padi sudah pulang berlakulah satu dari Undang nan Sambilan Pucuak ialah dengan mengadakan keramaian di kampung seperti melepas layang layang (malapeh alang alang)di tangah sawah pada petang hari , bakaba dan bercerita yang dirari dinyanyikan pada malam hari , yang mendatangkan paedah bagi pendidikan masyarakat kampung, diselenggarakan oleh anak muda, Pemuda atau pimpinan Pangatuo “ RANG MUDA” ketua perkumpulan seni, kadang kadang diringi dengan bunyi bunyian/music sehingga seni tari dan seni suara memegang peranan penghibur lelah, setelah menunaikan tugas berkala.
Nagari
Gabungan kampung yang tinggi tingkatnya merupakan nagari, Asal mula nagari adalah kemauan penduduk bersama yang mendiami nagari itu. Dan penduduk bersama itu ialah masyarakat gabungan kampung yang mendahuluinya, sebelum nagari itu ada.
Nagari itu tumbuh. Ia mempunyai sifat ka nagarian khusus, yang tidak dimiliki oleh masyarakat lain. Bernagari menghendaki ke Insafan dan kecerdasan rakyatnya yag istimewa. Sebab nagari itu adalah sesuatu pergaulan hidup tertentu, yang mempunyai daerah tertentu, rakyat tertentu, dan pemerintah tertentu.
Syarat Nagari
Nagari pada mulanya baru syah menurut adat apabila telah dipenuhi syarat yang empat :
1.      Labuah
2.      Tapian
3.      Balai
4.      Musajik
Cahayo nagari
1.      Rumah Gadang                       Rumah Adat beronjong
2.      Lumbuang Bapereng              lumbuang barukia
3.      Ameh Perak                            Emas perak
4.      Sawah lading
5.      Banda Buatan                         Irigasi (kali buatan)
6.      Kabau – Jawih                         kerbau-Sapi
7.      Tabek-Taman taman              Tabek (kolam) tempat pemeliharaan Ikan

Kebersaran Nagari
1.      Taratak Panyabungan
2.      Dusun-Galanggang
3.      Korong Kampuang                  Perkarangan rumah-kampung
4.      Pandam pakuburan                 makam Kaum

Paga Nagari
1.      Alat                  Pekakas Nagari
2.      Jago                 Waspada
3.      Sinjato             Senjata
4.      Mupakai          Mupakat
5.      Parik                Parit
6.      Kawan             Teman
7.      Luruih              Lurus
8.      Bana                Benar

Nagari adalah landasan Luhak, sebab susunan pemerintah dalam nagari haruslah sempurna, dan susunan ini memang sempurna sehingga panghulu pemangku adat dapat melakukan tugasnya sehari hari menurut undang undang Adat. Nagari mempunyai hak otonom penuh.
Luhak
Himpunan nagari dinamai Luhak, Teritorial, Dalam Tambo di Kiaskan bahwa datuak Suri Di-Rajo selalu mamak menyuruh tiga orang kemenakannya tamasya kerkeliling gunung merapi memeriksa keadaan tanah untuk pertanian , oleh karena rakyat bertambah berkembang jua, sehingga selain untuk anak buah sendiri perlu juga diusahakan tanah serap/tanah cadangan yang perlu disediakan untuk keturunan di belakang.
Setelah datuak katumangguangan  kembali dari arah barat ( AGAM)  gunung merapi beliau bercerita bahwa bumi disana hangat, airnya keruh, ikannya liar.. arti dari kata beliau ini ( orangnya Keras hati, berani, dan suka berkelahi)
Datuak Perpatih nan Sabatang kembali dari arah Timur (Tanah datar) menceritakan bumi disana Sejuk, Airnya Jernih, Ikannya Jinak arti dari kata beliau ini ( orangnya lembut, tenang, suka damai)
Datuak Maharajo nan Banego nego nan kembali dari arah Utara(50 Kota) menerangkan bahwa hawanya nyaman , airnya manis dan ikannya banyak  arti dari kata beliau ini (orangnya penyabar, ramah dan damai) dengan demikian terjadilah tiga buah Luhak sunggupun dalam nagari dalam tiap tiap luhak tiada sama.
Minang kabau
Maka disebut Minang kabau  “ Baluhak nan tigo” baluhak tigo buah nan dinamokan datuak Suri di-rajo bagian sebelah timur Luhak Tanah Data, Luhak sbalah barat Luhak Agam , sadangkan sabalah utara luhak Limo puluah koto.
Mendirikan minangkabau adalah dengan ujud tertentu sebagai gabungan pergaulan hidup adalah minangkabau menaruh djaminan akan beroleh sesuatu yang diharapkan sebagai keuntungan dan bahagia.
Rantau
Orang tua tua dahulu yang pergi merantau dan membuat nagari baru ditempat itu memakai susunan adat seperti  di pangkal Tanah . dimana perlu ditambah dengan beberapa peraturan baru , berdasarkan Kato mupakaik sesuai dengan keadaan yang diperlukan setempat. Sehingga peraturan baru itu mempererat ikatan bermasyarakat di nagari baru itu. Dengan tidak mengungkai kebat menurut adat dengan pangkal tanah . tempat mula mula tempat bapailah batinggalah, dilepas dan melangkah.
Biasanya sekali semusim atau bila kesempatan mengizinkan , orang yang merantau dating ke kampung melihat  “sandi nan Ampek” rumah asal tempat darah tertumpah, pusek di karek. Tempat di lahirkan. Berkunjung ke kampung ini namanya “ Menjalang” menjalang orang tua dan handai tolan supaya “kaik kaik jan sakah” artinya supaya hubungan berkaum antara yang di kampung sama yang di rantau tetap kekal . sebaliknya dimana oleh kaum yang dikampung kesempatan mengizinkan mereka membalas, kunjungan itu pula kerantau menunjukkan tali indak putuih sambia melepas rindu
Syarat Menegakkan Nagari di rantau adalah mengikat yang telah di tentukan di pangkal taah semula begitu juga bentuk federasi nagari nagari menurut adat kebiasaan di pangkal tanah tersebut. Kalau ada perbedaan antara rantau sama darat maka perbedaan itu Cuma pada teritorialnya saja tidak pada adat atau susunan nagari tsb.
Rantau adalah daerah otonom penuh, mempunyai peraturan pemerintahan sendiri sedangkan pucuk pimpinan adalah dari penduduk itu sendiri yang dipilih dari isi nagari dengan hak turun temurun untuk menjadi tepatan raja.
Berdasarkan Undang Undang Luhak dan Rantau dimana tentara “ Luhak berpanghulu, Rantau barajo” nyatanya raja berkuasa ke rantau sedangkan Penghulu tetap memegang kekuasaan atas Luhak.
Bersadarkan Luhak dan Rantau adalah dalam pengertian, bahwa rantau mengisi Adat kepada Raja untuk pembelanjaan Istana berupa
1.      Hak Daciang pangaluaran
2.      Ubua ubua gantuang kamudi
3.      Ameh manah tukub babuang
Biaya tersebut tidak diantar oleh “ Urang Gadang Dirantau” karena biaya sekali sekali bukan upeti dari daerah takluka raja melainkan raja sendiri atas utusannya yang pergi menjalani batang rantau memungut pembelanjaan itu, yang telah di kumpulkan oleh URANG GADANG lebih dahulu.
Hasil hasil yang lain seperti hasil ulayat berupa bunga emping bunga kayu, bunga mas dan payuang alas tinggal seluruhnya di rantau untuk keperluan sendiri.
Sebahagian tanah minangkabau yang terletak antara tanah darat dan rantau yang disebut “Ikua darek kapalo Rantau” ada yang merupakan kerajaan ada pula yang berupa federasi salah satu dari padanya Alam serambi Sungai pagu.
Fusi tidak ada diminangkabau dan tak mungkin ada , karena fusi berkehendak akan peleburan dan nagari nagari diminangkabau tak mungkin lebur, peleburan berarti membatalkan kemerdekaan  kampung untuk tetap mengurus dirinya masing masing. Sebagaimana  tersebut dalam petiti adat  “ Tagak mamaga suku, tagak bakampuang mamaga Kampuang”
Prinsip Nagari diminangkabau adalah Bebas mengurus dirinya masing masing kedalam. Dengan semboyan : “ Adat salingka Nagari artinya tiap tiap nagari berdiri dengan adatnya”
Bila dalam Nagari nagari yang berfederasi itu timbul masalah tentag siasat, social atau ekonomi, tidaklah bernafas keluar badan, melainkan diselesaikan oleh federasi tersebut menurut petua adat “ Kusuik Bulu Paruah manyalasaikan da kusuik paruah bulu na manyalassaikan” Federasi ini adalah ibarat burung  yang bagian bagiannya mempunyai tugas masing masing bagi kepentinga bersama..

                                                                               
                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar